imabapamekasan. Id : Gerakan sejati tak lahir dari ambisi sesaat, apalagi dari pengkhianatan terhadap nilai-nilai yang telah disepakati dan diwariskan. Di tubuh organisasi manapun, terutama yang berbasis moral dan religius seperti IMABA (Ikatan Mahasiswa Bata-Bata) gerakan seharusnya menjadi wadah untuk menyatukan, bukan mencabik kepercayaan.
Sayangnya, ketika sebuah gerakan disusupi oleh motif pribadi, pengkhianatan mulai tumbuh diam-diam. Ia bisa berbentuk kudeta halus, pembunuhan karakter, atau manuver tersembunyi demi kekuasaan. Inilah luka terdalam yang justru muncul dari dalam rumah sendiri. Dan ini bukan sekadar pelanggaran prosedur organisasi, tapi juga penghinaan terhadap nilai luhur yang menjadi fondasi keberadaan IMABA.
Filosofi IMABA yang berakar dari nilai-nilai pesantren menekankan bahwa “kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan.” Ini bukan semboyan kosong, melainkan peringatan moral bahwa adab harus menjadi poros gerakan. Sehebat apa pun retorika, sepintar apa pun strategi, jika dilakukan dengan cara-cara khianat dan tidak beradab, maka semuanya kehilangan makna. Cerdas bukan berarti boleh licik. Strategis bukan berarti boleh culas.
Dalam konteks ini, penting untuk mengingat pesan luhur dari RKH. Moh. Tohir Abd. Hamid:
“Siapapun yang jadi pemimpin, jadilah imam yang baik, imam yang mengerti psikologi makmum, imam yang bijaksana.”
Dauh ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang memimpin barisan, tetapi memahami dan menjaga perasaan, kepercayaan, serta integritas orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang berkhianat pada adab dan kesopanan, sejatinya gagal menjadi imam yang layak diikuti.
Pengkhianatan dalam gerakan IMABA, sekecil apa pun, adalah bentuk kekerasan terhadap *ruh organisasi* yang dibangun atas dasar ketulusan dan kebersamaan. Gerakan tanpa kesopanan hanyalah persekutuan ambisi. Dan ketika kesopanan dikorbankan demi kemenangan sesaat, sejatinya itu adalah kekalahan moral jangka panjang.
Penutup
IMABA harus menjadi contoh gerakan yang tidak hanya berjalan, tapi berjalan dengan benar. Menjunjung tinggi kesantunan, menjaga adab dalam setiap perbedaan, dan menghindari segala bentuk pengkhianatan yang hanya akan merusak kepercayaan antar kader. Sebab, seperti yang diajarkan oleh para masyayikh:
“Orang cerdas bisa memimpin, tapi hanya yang beradab yang bisa dipercaya.”
Oleh: Abd Hamid
Pendiri sekaligus Ketua DPD IMABA Unira 2014-2016
- Wakorwil DPW IMABA Pamekasan 2016 -2017
- Korwil DPW IMABA Pamekasan 2017-2018
- Ketum DPP IMABA 2018 – 2020
