imabapamekasan.id : Semakin ke sini, menjadi orang Madura bukan hanya soal identitas, tetapi juga perjuangan diam-diam untuk melawan bayang-bayang yang dipaksakan pada kami.
Stereotip demi stereotip terus dilekatkan. Kami disebut keras kepala, ketinggalan zaman. Lalu julukan seperti Meksiko, kampungan, atau lelucon yang menjadikan etnis kami bahan tawa semua itu bukan lagi hanya candaan itu merupakan bentuk pelecehan verbal yang telah membentuk persepsi publik secara tidak proporsional yang terus diwariskan, terutama pada generasi muda Madura yang sedang mencari jati dirinya.
Penggambaran media pun tak banyak membantu. Kami sering muncul hanya dalam narasi konflik, kekerasan, atau kemiskinan. Jarang sekali ada ruang yang menampilkan kami dengan utuh dalam sejarah, masyarakat Madura telah menunjukkan kontribusi besar dalam bidang perdagangan, pertanian, serta pergerakan keagamaan. Namun karena dominasi narasi negatif, pencapaian ini kerap terpinggirkan dari ruang publik.
Akibatnya, banyak dari generasi kami tumbuh dengan rasa minder, harus menyembunyikan logatnya, bahkan keengganan untuk menunjukkan identitas kulturalnya di ruang publik. karena adanya risiko sosial berupa diskriminasi harus menghindari identitasnya agar bisa diterima, padahal tidak ada yang salah dengan menjadi Madura, Yang salah adalah dunia yang terlalu cepat menilai dan terlalu malas untuk mengenal.
Kami tidak menolak kritik, tapi kami menolak dilabeli secara sembarangan. Kami tidak menuntut diistimewakan, tapi kami ingin dihargai sebagai manusia seutuhnya.
Untuk itu, perlu ada upaya kolektif dalam mendekonstruksi stereotip melalui pendekatan edukatif, media yang adil, dan representasi yang setara. Pendidikan multikultural dan literasi budaya perlu diperkuat agar masyarakat luas mampu melihat keberagaman bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai kekayaan bersama. Selain itu, penting bagi generasi muda Madura sendiri untuk merekonstruksi kembali identitasnya dengan cara yang progresif dengan tetap berakar pada nilai-nilai luhur Madura, namun tetap mampu bersikap terbuka dan adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.
Kami tahu, stigma tidak akan hilang dalam semalam. Tapi kami percaya, selama kami terus berbicara, terus berkarya, dan terus berdiri dengan kepala tegak kami sedang menulis ulang cerita kami sendiri.
oleh : Rifki Anshori, S.H (Demisioner Pengurus DPW IMABA Pamekasan)
