Rabu, Februari 11, 2026
Image Slider

Sejarah Duka di Penghujung September

imabapamekasan.id : Tiga puluh September bukan hanya tanggal biasa, bukan hanya angka yang tertulis tanpa makna, bukan pula hari yang yang harus dirayakan dengan momen bahagia. Melainkan ia adalah malam ketika bangsa ini terperangah, menyadari bahwa sejarah bangsa lagi-lagi harus dinodai dengan darah, pengkhianatan terhadap bangsa sendiri yang kejamnya melebihi penjajah. Di penghujung September 1965, gelap menyelimuti negeri, saat sejumlah jenderal diculik dan terbunuh dengan begitu keji dalam peristiwa yang kelak dikenal sebagai Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI). Malam itu, darah tumpah dalam senyap, membuka bab kelam yang menyayat sejarah Indonesia. Tragedi ini menorehkan luka mendalam di hati bangsa, meninggalkan jejak trauma dan perpecahan yang hingga kini masih terasa. Bukan hanya tentang hilangnya nyawa para perwira, tetapi juga tentang terbelahnya bangsa oleh kecurigaan, kebencian, dan propaganda.

Tiga puluh September menjadi penanda, bahwa kekuasaan bisa menyalakan api fitnah, bahwa perbedaan ideologi bisa berubah menjadi bencana, dan bahwa korban sejati dari sejarah yang kelam selalu rakyat biasa yang tak berdaya. Hingga hari ini, bayang-bayang 30 September tetap menggema, ia mengajarkan bahwa bangsa yang besar
bukanlah bangsa yang melupakan sejarah, melainkan bangsa yang berani belajar darinya agar kelam tak lagi terulang. Pasca peristiwa itu, Indonesia diguncang gelombang penumpasan dan pembalasan. Ratusan ribu jiwa bahkan lebih dituduh terlibat, banyak yang disiksa, dipenjara, dan sebagian besar tidak pernah diadili. Sejarah mencatatnya sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di negeri ini.

Hingga kini, Indonesia seakan masih digentayangi oleh PKI, kekejaman dan pengkhianatannya dalam sejarah seakan sudah didistorsi, dimana itu semua merupakan salah satu wujud visi dan misi PKI, mulai dari kader-kadernya yang sudah masuk parlemen dan instansi, hingga simposium temu kangen PKI serta lambang PKI yang beberapa tahun lalu mulai bertebaran dimana-mana seakan sudah memperoleh izin yang resmi.

Apakah itu semua merupakan tanda-tanda bahwa PKI akan bangkit kembali? Jika gentayangannya saja sudah menjadi masalah bagi Indonesia sendiri, apalagi jika PKI muncul dengan wujudnya yang asli. Bukankah pemberontakan itu adalah problematika? Jika PKI pernah melakukannya, akankah kita tidak merasa was-was jika suatu saat mereka akan bangkit kembali. Bukankah mereka pernah mengatakan bahwa runtuhnya PKI hanyalah sementara. Tentu kita tidak akan mengharapkan hal itu semua. Kita hanyalah mengharapkan kedaulatan bangsa Indonesia, bukan sebaliknya. Sudahlah cukup bagi kita untuk selalu memperbincangkannya, lebih baik kita mencari solusi untuk mengantisipasi dan mencegahnya.

Bagaimanapun juga yang terjadi sudah terjadi, sejarah itu perlu dilihat sesekali, bagaikan spion yang jika selalu dilihat kita akan menabrak, tapi jika samasekali tidak dilihat kita yang akan ditabrak. Namun waktu tidak hanya mengingat luka, ia juga menyimpan pesan yang begitu bijaksana, bahwa gelap bukanlah akhir dari cahaya, bahwa bangsa besar harus belajar dari duka.

Oleh : Taretan Abd Rahman Wahid (Bendum DPW IMABA Pamekasan)

Terkini

PilihanImaba

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini