Imabapamekasan.id : Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar seremoni tahunan yang penuh slogan. Di tengah perayaan, ada keresahan yang semakin terasa: pendidikan di Indonesia belum benar-benar menjadi prioritas utama pemerintah, baik dalam arah kebijakan maupun dalam implementasinya.
Keresahan ini terlihat dari berbagai sisi. Ketimpangan akses pendidikan masih nyata, kesejahteraan guru belum optimal, dan perubahan kebijakan seringkali terasa tidak konsisten. Namun ada satu hal lain yang jarang dibahas, tetapi cukup mengganggu: arah pengembangan potensi siswa melalui kegiatan dan perlombaan yang difasilitasi pemerintah.
Ajang seperti Porseni memang memiliki nilai positif dalam membangun karakter, sportivitas, dan ekspresi seni. Tetapi ketika jenis lomba yang diangkat cenderung didominasi oleh pidato, puisi, atau olahraga, muncul pertanyaan: apakah ini sudah sejalan dengan kebutuhan masa depan? Di tengah dunia yang bergerak cepat dalam bidang sains dan teknologi, porsi untuk kompetisi akademik seperti kimia, fisika, matematika, dan biologi masih terasa kurang menonjol dalam ruang publik pendidikan kita.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa sistem pendidikan kita berjalan di tempat. Bukan karena siswa tidak mampu, tetapi karena ekosistemnya belum sepenuhnya mendorong ke arah penguasaan ilmu pengetahuan yang lebih dalam dan aplikatif. Padahal, jika Indonesia ingin berperan lebih besar di tingkat global—termasuk dalam bidang teknologi maju—maka fondasinya harus dibangun sejak dini melalui pendidikan yang menekankan sains, riset, dan inovasi.
Di sisi lain, membandingkan posisi Indonesia dengan negara lain dalam konteks konflik global memang menunjukkan satu hal: kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh sikap politik, tetapi juga oleh kapasitas ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemandirian strategisnya. Negara yang memiliki keunggulan di bidang ini cenderung lebih diperhitungkan di panggung dunia.
Namun penting juga untuk diingat bahwa pendidikan tidak bisa disempitkan hanya pada sains semata. Seni, olahraga, dan kemampuan komunikasi tetap memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang utuh. Masalahnya bukan pada keberadaan lomba-lomba tersebut, melainkan pada keseimbangan dan prioritas yang belum tepat.Hari Pendidikan seharusnya menjadi titik balik untuk menata ulang arah. Pendidikan Indonesia perlu lebih berani mendorong kompetisi yang relevan dengan tantangan masa depan—tanpa meninggalkan aspek karakter dan budaya. Karena pada akhirnya, kualitas suatu bangsa tidak dibangun dari satu bidang saja, tetapi dari keseimbangan antara kecerdasan, kreativitas, dan ketangguhan.
Oleh: KHOLILUR ROHMAN
Bidang: Kaderisasi IMABA DPW Pamekasan
